- Apa itu umrah?
Umrah secara bahasa artinya ziarah, sedangkan menurut syara’ dan terminologi fikih, pengertian umroh adalah menziarahi ka’bah, melakukan tawaf di sekelilingnya, bersa’i antara Shafa dan Marwah dan mencukur atau menggunting rambut dengan cara tertentu dan dapat dilaksanakan setiap waktu.
- Mengapa harus berumrah?
Hakekat dari ketaatan yang dilakukan oleh seorang hamba adalah upaya untuk memperbaiki nasibnya di akherat kelak, diantara bentuk ketaatan itu adalah ibadah umrah. Mengapa kaum muslimin bersemangat untuk berumrah? Tentu saja karena keutamaan dan keistimewaan umrah yang di dalamnya terdapat janji Allah Azza wa Jalla untuk melimpahkan pahala dan mengampuni dosa-dosa. Adapun perinciannya sebagai berikut:
- Penghapus dosa di antara dua umrah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,
العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ
“Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam al-Bukhari menyampaikan hadits ini dalam Shahih Bukhari pada bab-bab tentang umrah (abwabul umrah) no 1773, dan dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim no 1349.
- Menghilangkan kefakiran dan menghapus dosa
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Iringilah haji dengan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Tidak ada pahala bagi haji yang mabrur, kecuali surga.” (HR. An-Nasa’i, No 2631)
- Umrah bagi wanita adalah jihad
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ « نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ
“Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa melakukan perang, yaitu dengan haji dan umrah.” (HR. Ibnu Majah, No 2901)
- Menjadi tamu Allah dan doanya mustajab
Disebutkan di dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ
“Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji, serta berumrah adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, maka mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan permintaan mereka.” (HR. Ibnu Majah, no 2893)
- Keutamaan ucapan talbiyah
Mengenai ucapan talbiyah, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَا أَهَلَّ مُهِلٌّ قَطُّ إِلَّا بُشِّرَ ، ولا كَبَّرَ مُكبِّرٌ قَطُّ إِلاَّ بُشِّرَ، قِيلَ: بِالْجَنَّةِ؟ قَالَ: نَعَمْ
“Tidaklah seorang mengucapkan talbiyah atau mengucapkan takbir, melainkan akan dijanjikan dengan kebaikan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “apakah dijanjikan dengan surga?” Beliau menjawab, “Iya.” (HR. Thabrani, no 7779)
- Keutamaan thawaf
Mengenai pahala thawaf, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ طَافَ بِهَذَا البَيْتِ أُسْبُوعًا فَأَحْصَاهُ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ، لاَ يَضَعُ قَدَمًا وَلاَ يَرْفَعُ أُخْرَى إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً وَكَتَبَ لَهُ بِهَا حَسَنَةً
“Barangsiapa yang thawaf di Ka’bah ini sebanyak tujuh putaran, lalu ia menyempurnakannya, maka seperti (pahala) memerdekakan seorang budak. Tidaklah ia meletakan kakinya dan tidak pula ia mengangkat kaki yang lain, kecuali Allah akan menghapuskan satu dosanya dan mencatat baginya satu kebaikan.” (HR Tirmidzi, no 959)
- Pahala shalat di Masjidil Haram
Mengenai pahala salat di Masjidil Haram, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هذَا خَيْرٌ مِن أَلْفِ صَلَاةٍ فِي مَا سِوَاهُ إِلَّا المَسْجِدَ الحَرَامَ، وَصَلَاةٌ فِي الْحَرَامِ أَفَضَلُ مِنْ مِائَةِ صَلَاةٍ فِي مَسْجِدِي هذَا
“Salat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 kali salat di masjid lainnya, selain Masjidil Haram. Adapun salat di Masjidil Haram, maka lebih utama daripada 100 kali salat di masjidku ini (Masjid Nabawi).” (HR. Bukhari no.1190 dan Muslim no.1394)
- Ampunan Allah ketika tahallul
Disebutkan di dalam hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mendoakan bagi orang yang tahallul,
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالْمُقَصِّرِينَ ؟ قَالَ : وَالْمُقَصِّرِينَ
“Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau cuma sekedar potong pendek?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat balik bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau cuma potong pendek?” Beliau masih bersabda, “Ya Allah, ampunilah mereka yang potong gundul.” Para sahabat kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cuma sekedar potong pendek?” Baru beliau menjawab, “Dan juga bagi yang memendekkan.” (HR. Bukhari no.1727 dan Muslim no.1301)
- Perjuangan dan pengorbanan untuk meraih pahala
Jarak Surabaya menuju Makkah adalah 8.552 km sedangkan jarak Jakarta menuju Makkah adalah 7.911 km. Jarak dua kota di tanah air ini menuju makkah adalah jarak yang sangat jauh, diperlukan persiapan fisik, harta serta tekat yang kuat untuk menempuhnya. Namun demikian, ternyata masih terdapat perjuangan yang lebih dari itu. Tidak hanya berjuang agar bisa sampai ke makkah, namun perjuangan agar ibadah yang dilakukan berbuah pahala. Menjaga keikhlasan serta beribadah sesuai contoh nabi adalah bentuk perjuangan yang sesungguhnya. Jangan sampai pengorbanan, waktu, harta dan tenaga dalam ibadah umrah berakhir sia-sia. Waspadalah, syaithan tak akan berhenti menggoda manusia melalui pintu syubhat dan pintu syahwat untuk merusak pahala yang diperjuangkan.
Allah Azza wa Jalla akan menguji para hamba-Nya, terkhusus selama perjalanan ibadah umrah ini. Sejatinya ujian yang Allah berikan itu adalah bentuk kasih sayang Allah, berkaitan hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR.Muslim, no. 2999).
Manakala seorang hamba diuji dalam bentuk kemudahan, yakinlah itu adalah bentuk pertolongan Allah Azza wa Jalla pada dirinya. Ketika tersadar bahwa Allah Azza wa Jalla telah menganugerahkan nikmat padanya, maka ia akan semakin bersandar dan berlindung kepada-Nya dengan bersemangat menjalankan berbagai ketaatan; berdzikir, berpuasa, shalat, membaca Al-quran, berinfak dan lain sebagainya.
Nikmat yang diberikan telah mempertebal imannya, Allahpun semakin mencintainya. Allah berjanji akan semakin menambah nikmatnya bahkan dijanjikan surga di akherat kelak. Mengetahu hal itu seorang hamba semakin takut berbuat maksiat yang berkonsekuensi dicabutnya berbagai kenikmatan tersebut darinya terutama nikmat kehidupan akhiratnya.
Manakala seorang hamba diuji dalam bentuk kesulitan maupun kesempitan, yakinlah itu adalah bentuk kasih sayang Allah Azza wa Jalla pada dirinya dalam bentuk lain. Di balik kesempitan itu terdapat janji Allah untuk mengangkat derajatya. Bahkan, dalam perjalanan ibadah umrah ini pahala seseorang akan berkaitan dengan kadar kesulitan dan pengorbannya. Sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut ini:
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda mengenai umrah yang dilakukan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ قَالَ لَهَا فِي عُمْرَتِهَا : إِنَّ لَكِ مِنَ الأَجْرِ عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ وَنَفَقَتِكِ
“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Aisyah tentang umrahnya, ‘Sesungguhnya kamu mendapat pahala sesuai kadar kesulitan dan pengorbananmu.’” (HR. Hakim)
Ketika tertimpa ujian dalam bentuk kesulitan maka sabar dan memperbanyak istighfar adalah solusinya. Dengan kesabaran dan memperbanyak istighar maka dosa-dosa akan terampuni, dan itu bisa jadi tidak dapat terjadi jika seorang hamba tidak diuji dengan kesulitan.
Sebagaimana sebuah dialog antara sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ketika para sahabat khawatir tentang dirinya karena mendengar ayat:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman )QS. Al-An’am:82)
Wahai Rasulullah, siapakah kiranya diantara kami yang tidak pernah melakukan kesalahan? Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab:
يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَسْتَ تَنْصَب؟ أَلَسْتَ تَحْزَن؟ أَلَسْتَ تُصِيبُكَ اللَّأْوَاءُ؟ فَذَلِكَ مَا تُجْزَونَ بِهِ
Wahai abu bakar, apakah engkau tidak pernah merasa keletihan (kepayahan)? apakah engkau tidak pernah merasakan sedih? Apakah engkau tidak pernah merasakan kesulitan? Maka itulah perkara yang akan membalas dosa (mengurangi dosa). (HR. Ahmad no 71)
Setiap keletihan dan kesulitan selama perjalanan umrah akan mendatangkan ampunan, jika mampu bersabar terlebih dihiasi dengan memperbanyak istighfar.
Penutup:
Tentu saja dalam perjalanan ibadah umrah ini akan menemui berbagai ujian, terkadang berbentuk kemudahan namun terkadang pula berbentuk kesulitan. Jangan sampai kemudahan yang didapatkan justru membuat terlena dan terlalaikan dari mengingat Allah, kemudahan yang didapatkan justru dipergunakan untuk berbuat maksiat dan mengancam pahala ibadah umrah. Demikian pula, setiap kesulitan haruslah disikapi dengan kesabaran sehingga meraih pahala yang sempurna. Jangan sampai selama perjalanan mendapatkan kesulitan ditambah lagi dengan perbuatan maksiat seperti umpatan, makian dan mengganggu kenyamanan orang lain dalam beribadah.
Ketika mendapatkan ujian baik kemudahan maupun kesempitan, hendaknya mengingat akan nasib di akherat kelak. Diantaranya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan:
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)
Hadist ini berisi hasungan agar berhati-hati dalam berbicara terlebih di tanah haram, setiap apa yang dibicarakan akan berdampak pada kehidupan akhirat pelakunya. Demikian, nasihat ini disampaikan untuk jamaah umrah sekalian terutama untuk diri penulis sendiri